Inilah Amarah dan Kebencian yang Menghancurleburkan Masjid Babri

677 views

1

Masjid Babri hancur karena sengketa sejarah soal siapa yang lebih dulu berdiri di atas tanahnya. Pelajaran berharga dari India soal relasi mayoritas dan minoritas.
tirto.id – India tidak ubahnya Indonesia: bangsa dengan multi etnis dan agama. Dibandingkan Indonesia, bahkan India menghadapi persoalan yang lebih laten dan keras. Sampai-sampai, India dan Pakistan berpisah pertengahan abad lalu dengan cara yang berdarah-darah karena konflik agama.

Kendati banyak muslim yang migrasi ke Pakistan, namun warga muslim di India masih sangat banyak jumlahnya. Bahkan cukup banyak muslim di Ayodya, kota tua dan bersejarah bagi sejarah India dan orang-orang Hindu.

Di kota itulah berdiri sebuah masjid bersejarah. Hanya saja, masjid itu walau pun bersejarah dan tidak berusia muda, tetap saja berdiri jauh setelah orang-orang Hindu tinggal di sana. Orang-orang Hindu mengklaim masjid tersebut berdiri di atas tanah yang dulunya menjadi tempat sebuah kuil suci yang sangat dihormati. Klaim sejarah inilah yang memicu konflik yang berakhir dengan pembakaran masjid.

Babur Sang Penakluk

Berabad-abad lalu, hiduplah seorang penyair sekaligus seorang jenderal bernama Babur. Konon, penyair ini lahir di hari yang diperingati sebagai hari kasih sayang (Valentine) yaitu 14 Februari 1483. Dia punya nama Islami Zhainuddin Muhammad. Sang jenderal ini rupanya keturunan kelima dari penakluk terkenal Timur Lenk.

Babur sejak berusia 12 tahun sudah menggantikan ayahnya Umar Syaikh Mirza sebagai penguasa Farghana, Asia Tengah. Di usianya yang ke-21 tahun, pada 1504, Babur berhasil menguasai kawasan sekitar Kabul dan Ghazni di Afganistan. Di sanalah ia kemudian mendirikan kerajaan.

Pada 1526, dua dekade setelah menguasai Afganistan, Babur mulai bergerak ke arah India. Mula-mula ia memasuki India Utara. Sultan Dehli Ibrahim Lodi dan panglima gabungan Raja Rajput Rana Sangram Singh berhasil dipecundanginya. Begitu menurut buku Jejak-jejak Islam: Kamus Sejarah dan Peradaban Islam dari Masa ke Masa (2015) karya Ahmad Rofi Usmani.

Setelah mapan menancapkan pengaruh di India, Babur pun mendirikan dinasti Mughal. Ini sebutan untuk dinasti raja-raja Islam yang berkuasa di India bagian utara selama ratusan tahun.

Ketika mulai mapan berkuasa di India, pada 1527, Babur yang cinta Qur’an, ilmu pengetahuan dan sastra ini memerintahkan pembangunan masjid. Salah seorang panglima bawahan Babur, Mir Baqi, diserahi tanggungjawab pembangunan masjid ini. Masjid itu berhasil dibangun dengan cepat dan hasilnya pun memukau.

Masjid ini menjadi yang terbesar di Uttar Pradesh, India. Masjid tinggalan Babur yang meninggal pada 1530 tersebut memiliki tiga kubah besar. Arsitekturnya terpengaruh gaya Jaunpur yang menggunakan batu. Posisi langitnya dibangun tinggi agar ventilasi udara terjaga. Selain itu terdapat enam jendela utama.

Orang-orang mengenalnya juga sebagai Masjid Babri, julukan yang terkait dengan nama Babur. Sebelum 1940, masjid ini juga dikenal dengan nama I Janmasthan yang berarti “tempat kelahiran”. Nama itu merujuk kepercayaan orang-orang setempat, khususnya umat Hindu, yang meyakini masjid itu dibangun di kawasan kuil tempat kelahiran Sri Rama, tokoh suci umat Hindu yang dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu.

Profesor Ram Sharan Sharma dalam buklet berjudul Communal History and Rama’s Ayodhya menyebut Ayodhya dulunya adalah tempat ziarah Hindu kuno. Ram Sharan, bersama Suraj Bhan, M Athar Ali dan Dwijendra Narayan, membahas bahwa masyarakat, terutama orang-orang Hindu, punya pendapat bahwa kawasan masjid itu dulunya kuil Hindu yang dirusak ketika Babur berkuasa.

Orang-orang Hindu percaya bahwa Mir Baqi, panglima yang ditunjuk Babur memimpin proyek pembangunan mesjid, yang memimpin penghancuran kuil yang dibangun untuk memperingati kelahiran Rama, raja yang memerintah Ayodya.

Tags: #Masjid Babri

Ke Halaman Selanjutnya :